Monthly Archives: November, 2007

Malingsia

malingsia.jpg

Entah berapa banyak kekayaan budaya negeri ini yang telah dan akan diambil oleh Malaysia. Negara tetangga yang satu ini memang durhaka. Dulu saat mereka masih tertinggal Indonesia membantu mereka mengirimkan guru, perawat dan bantuan lainnya. Tapi sekarang setelah mereka maju, mereka melakukan beberapa penghinaan kepada bangsa dan negara indonesia.

Jalan terbaik untuk melawan malaysia adalah kita harus lebih maju dari mereka. Jika Indonesia kuat dalam hal ekonomi, sains, politik dan juga berwibawa di dunia internasional maka malaysia akan kembali menghargai kita selaku bangsa dan negara.

Advertisements

Donna Donna ( Soundtrack GIE )

On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer`s night.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
“Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“
Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

Kebiasaan Nongkrong di pinggir jalan

Di sebuah kampung tetangga , ada sebuahkebiasaan yang mulai setahun ini semakin berkembang, yaitu nongkrong dipinggir jalan. Aku gak tahu kenapa mereka memilih pinggir jalan sebagaitempat nongkrong padahal masih ada teras rumah yang lebih pas untuksekedar ngobrol atau tempat kumpul-kumpul.Pernah suatu ketika lewat seorang pengendara motor, mungkin karena gakmembunyikan klakson atau nggak menyapa mereka dikata-katai denganbahasa yang kasar, hingga akhirnya memancing keributan. Bahkan keributanitu berujung pada keributan antar kampung.

Menurut analisa saya mereka nongkrong di pinggir jalan adalah untuk :
1. Menunjukan kekuasaan mereka atas suatu tempat/wilayah.
2. Ingin menunjukan kekuatan orang/kelompok di daerah/tempat tersebut.
3. Ingin meraih popularitas/dikenal masyarakat.

Ini adalah pola pikir yang sangat primordial, padahal nongkrong itu hanyamembuang-buang waktu. Dari kesehariannya itu setelah saya amati kebiasaanitu timbul dari hal-hal sebagai berikut :

1. Tidak adanya pekerjaan ( mereka umumnya pengangguran ).
2. Hilangnya kesopanan dan etika dalam bergaul dimasyarakat.
3. Rendahnya pendidikan dimasyarakat.
4. Masih kuatnya budaya kekerasan.
5. Pola pikir yang masih sangat “katro” ( seperti sok jago, godain cewek lewat).

Padahal tidak terhitung berapa waktu yang terbuang dalam setiap harinyatanpa pernah memberinya keuntungan. Ternyata perkembangan teknologi daninfomasi belum bisa merubah masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Budaya seperti itulah yang membuat bangsa ini terlambat untuk maju. Cobasaja, jika para pemuda bangsa ini mau maju mungkin mereka akan lebihmemilih untuk belajar daripada nongkrong.

Mungkin nongkrong juga mempunya nilai positif jika dilakukan dengan cara-cara yang lebih elegan dan santun.

Untuk seorang sahabat

 Selamat menempuh hidup baru dalam bahtera rumah tangga

Aku tak mengira, dunia berputar begitu cepat. sangat cepat. Tak terasa kita telah sama-sama menjadi dewasa, padahal baru kemarin kita meninggalkan bangku sekolah menengah. Kita bersama melalui hari dengan tawa polos tanpa beban, menjalani hari-hari dengan kebersamaan yang indah, membagi setiap kebahagian bersama sahabat-sahabat kita. Masih ingatkah kita dulu pernah main kartu semalam suntuk padahal besok harinya kita harus mengambil raport ke sekolah. Masih ingatkah kita pernah kedinginan di gunung saat camping. Sebuah kenangan indah yang kembali terlintas saat ku ingat namamu juga sahabat-sahabat kita. Ya, masa-masa seperti itu begitu menakjubkan. terkadang aku ingin kembali ke masa itu, konyol memang. tapi aku selalu rindu masa-masa demikian. hidup bebas, tanpa beban. Sebentar lagi kau harus pergi dari dunia anak-anakmu. kau akan menjadi pria dewasa sepenuhnya. menjadi seorang suami dari wanita yang kau cintai. dan menjadi seorang bapak pada akhirnya, kelak akan menjadi kakek bagi anak-cucumu. Dunia yang akan kau masuki adalah dunia orang-orang dewasa. Dunia yang teramat keras, tapi disanalah kau mungkin akan menemukan kebahagiaan yang seutuhnya. Sebentar lagi, satu kebebasanmu akan hilang. Dulu kita sering pulang malam, nginap dikantor sampe berhari-hari lamanya, atau membuat acara kumpul-kumpul di sekolahan untuk membuat organisasi alumni atau sekedar makan baso atau mie di pinggir jalanr jalan. Ya, kau mungkin tak lagi bisa seperti dulu. Pergi kemanapun ditemani oleh istrimu. Dunia yang menuntut komitmen dan tanggung jawa. Tapi kau sudah memilih jalanmu sendiri. Aku bahagia atas pilihanmu, sebahagia dirimu dan keluargamu. Kau tahu? seorang ibu bertanya padaku kemarin, “kapan kau akan menyusul, Nak?” dan aku hanya tersenyum sambil kujawab “kapan-kapan.” geli rasanya ditanya seperti itu. Kuucapkan selamat untukmu! Semoga ini adalah benar-benar keputusanmu atas jalan hidup yang akan kau tempuh. Aku tahu, dibalik kebahagiaanmu ini, kau sangat mengharapkan doa dari sahabat-sahabatmu, sahabat kita. Dan aku dari sini berdoa ikhlas untukmu. Semoga kau bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Amin

 Dedicated to Anggi Lesmana

Bung Hatta, Buku dan Perjuangan

Sesudah itu aku dibawanya ke salah satu toko buku Antiquariaat, di sebelah Societeit Harmonie. Di sana tampak oleh Ma’ Etek Ayub tiga buku yang dianggapnya perlu aku baca nanti, yaitu dua jilid buku “Staathuishoudkunde” karangan NG Pierson, “De Socialisten” oleh H.P. Quack, dan buku “Bellamy”, “Het Jaar 2000”
(Memoir Mohammad Hatta, 1979. Hal 69)

SAAT itu, pada suatu siang di bulan Juli 1919, Mohammad Hatta yang sedang menempuh pendidikan di Prins Hendrik School (Sekolah Dagang Menengah di Batavia), untuk pertama kali memiliki buku-buku nonpelajaran, yang dibelikan oleh pamannya, Ma’ Etek Ayub.

Seperti diakui Bung Hatta dalam memoir tersebut, itulah perkenalan pertamanya dengan buku-buku umum, yang sekaligus menjadi dasar dari perpustakaan pribadinya di masa depan.

Bung Hatta, memang begitu mencintai buku. Sebagai seorang yang dikenal sangat disiplin, ia terbiasa membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku-buku lainnya untuk memperluas pengetahuan pada sore hari sesudah pukul empat.

Kebiasaan membaca ini senantiasa dijaga Bung Hatta, baik ketika melanjutkan studi ke Rotterdamse Handelshogeschool di negeri Belanda, atau pun ketika menjalani pembuangan di Tanah Merah, Digul, dan Banda Neira.

Bukan sekadar membaca, Bung Hatta tentu saja gemar membeli buku. Selama kuliah di Rotterdam, dia mengadakan perjanjian dengan toko buku terkenal di kota itu, De Westerbookhandel. Perjanjian yang memungkinkannya untuk terus memesan buku hingga jumlah semuanya tidak lebih dari 150 gulden, dengan pembayarannya dapat diangsur 10 gulden setiap bulan.

Bahkan, pada liburan pertamanya di Hamburg, akhir Desember 1921, Bung Hatta memborong puluhan buku teks pada sebuah toko buku bernama Otto Meissner. Buku-buku yang berharga puluhan dan ratusan Mark Jerman tersebut, dapat dibeli dengan harga murah karena Jerman sedang dihantam inflasi hebat. Nilai Gulden Belanda dan Mark Jerman saat itu, seperti 1 berbanding 100.

Tidak heran, setelah menjadi sarjana ekonomi dan pulang ke Indonesia, Bung Hatta membawa serta empat m3 buku, dalam 16 peti besi yang berukuran seperempat m3. Itu pun, sebagian lainnya terpaksa ditinggal dan diberikan untuk teman dekat Bung Hatta di Den Haag, Sumadi dan Rasjid Manggis.

Dasar perjuangan

Kecintaan Bung Hatta pada buku dan perhatian besarnya pada pendidikan, turut membentuk karakteristik perjuangan yang terus diyakininya, sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.

Bung Hatta memercayai bahwa pergerakan yang berkarakter diawali oleh kesadaran pendidikan. Akselarasi akan didorong oleh generasi terpelajar, yang mampu menghadirkan organisasi perjuangan dan serangan intelektual terhadap rezim penindas.

Melalui organisasi pergerakannya, Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), Bung Hatta memberikan kursus-kursus, mendidik kader-kader baru, mengembangkan pola pikir hingga membentuk budi dan pekerti rakyat.

Dalam setiap kursus kader PNI, bukan agitasi dan gerakan massa yang diajarkan, tetapi diarahkan pada analisis serta memecahkan masalah nyata. Kader-kader PNI pun dianjurkan memperluas pengetahuan, selain memahami “bacaan wajib” seperti buku Bung Hatta (Indonesia Vrij & Tujuan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia), buku Indonesia Menggugat karya Soekarno, serta majalah Daulat Rakyat.

Bagaimanapun juga, ingatan sejarah kita merekam narasi besar Bung Hatta, awalnya adalah buku, kemudian pendidikan sebagai alat perjuangan pokok demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Karena masyarakat yang cerdas (dengan kemampuan berpikir, merasa dan bertindak sesuai tuntutan zaman), akan memiliki kapasitas yang lebih baik dalam mengelola, mengorganisasikan, dan berdiri di atas kaki sendiri. (Ahmad Rafsanjani, bergiat di Archetype (Syndicate of Psychology Studies)***