Nasib Kampung ku

Kampung di wilayah sekitar Jabodetabek mungkin dalam beberapa dasawarsa kedepan akan kehilangan maknanya. Kampung bukan lagi tempat bagi budaya lokal untuk bertahan. Semua sudah terkontaminasi dengan tren modernisasi. Sehingga kampung yang dulu identik dengan keramah tamahan, kesejukan udaranya hingga keindahan budayanya perlahan menjadi pinggiran dari sebuah peradaban perkotaan,pinggiran dari sebuah peradaban kota yang angkuh.

Dikampungku saja, tanah-tanah dijual kepada orang-orang kota, ada yang dibuat untuk rumah ada juga yang hanya untuk investasi. Karena bisa ditebak harga tanah dari tahun ke tahun selalu naik tajam.Orang-orang di kampung beramai-ramai menjadi ‘biong’ atau cukong tanah untuk menjual tanah warga yang mudah tergiur dengan uang jutaan demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Di saat yang sama, pendidikakn anak-anak usia sekolah di kampungku sangat memprihatinkan. Mereka yang hanya tamat SD dan tidak mempunyai dana untuk melanjutkan pendidikan ke SMP lebih rela menjadi pengangguran dari pada masuk SMP terbuka. Budaya untuk belajar dikampungku sangat rendah. Mereka yang mempunyai dana untuk sekolah tinggi pun hanya sekedar sekolah saja, tidak ada dalam pemikiran mereka untuk maju dan mempunyai skill dan pengetahuan yang luas untuk bisa bersaing di era globalisasi ini.

Tanah-tanah dikuasai para orang berduit, pendidikan dimasyarakat sangat rendah maka bisa ditebak bagaimana nasib kampungku tersebut dimasa depan. Mungkin kampung ini perlahan akan menjadi bagian dari kemajuan, sedangkan penduduknya akan tersingkir dengan sendirinya dikarenakan kalah oleh persaingan jaman dikarenakan pemahaman mereka yang kurang tentang kemajuan.

Dalam istilah sunda ada pepatah “jati ka tindih ku junti” yang artinya penduduk asli tersingkir oleh pendatang. Kemana mereka akan menyingkir, ke gunung atau bertahan dipinggiran kemajuan dan jadi penonton kemajuan peradan dan melihat dengan sangat masygul kampungnya dijadikan perumahan atau pusat industri tanpa pernah mereka menikmati kemajuan yang tumbuh ditanah kelahirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s