Bung Hatta, Buku dan Perjuangan

Sesudah itu aku dibawanya ke salah satu toko buku Antiquariaat, di sebelah Societeit Harmonie. Di sana tampak oleh Ma’ Etek Ayub tiga buku yang dianggapnya perlu aku baca nanti, yaitu dua jilid buku “Staathuishoudkunde” karangan NG Pierson, “De Socialisten” oleh H.P. Quack, dan buku “Bellamy”, “Het Jaar 2000”
(Memoir Mohammad Hatta, 1979. Hal 69)

SAAT itu, pada suatu siang di bulan Juli 1919, Mohammad Hatta yang sedang menempuh pendidikan di Prins Hendrik School (Sekolah Dagang Menengah di Batavia), untuk pertama kali memiliki buku-buku nonpelajaran, yang dibelikan oleh pamannya, Ma’ Etek Ayub.

Seperti diakui Bung Hatta dalam memoir tersebut, itulah perkenalan pertamanya dengan buku-buku umum, yang sekaligus menjadi dasar dari perpustakaan pribadinya di masa depan.

Bung Hatta, memang begitu mencintai buku. Sebagai seorang yang dikenal sangat disiplin, ia terbiasa membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku-buku lainnya untuk memperluas pengetahuan pada sore hari sesudah pukul empat.

Kebiasaan membaca ini senantiasa dijaga Bung Hatta, baik ketika melanjutkan studi ke Rotterdamse Handelshogeschool di negeri Belanda, atau pun ketika menjalani pembuangan di Tanah Merah, Digul, dan Banda Neira.

Bukan sekadar membaca, Bung Hatta tentu saja gemar membeli buku. Selama kuliah di Rotterdam, dia mengadakan perjanjian dengan toko buku terkenal di kota itu, De Westerbookhandel. Perjanjian yang memungkinkannya untuk terus memesan buku hingga jumlah semuanya tidak lebih dari 150 gulden, dengan pembayarannya dapat diangsur 10 gulden setiap bulan.

Bahkan, pada liburan pertamanya di Hamburg, akhir Desember 1921, Bung Hatta memborong puluhan buku teks pada sebuah toko buku bernama Otto Meissner. Buku-buku yang berharga puluhan dan ratusan Mark Jerman tersebut, dapat dibeli dengan harga murah karena Jerman sedang dihantam inflasi hebat. Nilai Gulden Belanda dan Mark Jerman saat itu, seperti 1 berbanding 100.

Tidak heran, setelah menjadi sarjana ekonomi dan pulang ke Indonesia, Bung Hatta membawa serta empat m3 buku, dalam 16 peti besi yang berukuran seperempat m3. Itu pun, sebagian lainnya terpaksa ditinggal dan diberikan untuk teman dekat Bung Hatta di Den Haag, Sumadi dan Rasjid Manggis.

Dasar perjuangan

Kecintaan Bung Hatta pada buku dan perhatian besarnya pada pendidikan, turut membentuk karakteristik perjuangan yang terus diyakininya, sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.

Bung Hatta memercayai bahwa pergerakan yang berkarakter diawali oleh kesadaran pendidikan. Akselarasi akan didorong oleh generasi terpelajar, yang mampu menghadirkan organisasi perjuangan dan serangan intelektual terhadap rezim penindas.

Melalui organisasi pergerakannya, Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), Bung Hatta memberikan kursus-kursus, mendidik kader-kader baru, mengembangkan pola pikir hingga membentuk budi dan pekerti rakyat.

Dalam setiap kursus kader PNI, bukan agitasi dan gerakan massa yang diajarkan, tetapi diarahkan pada analisis serta memecahkan masalah nyata. Kader-kader PNI pun dianjurkan memperluas pengetahuan, selain memahami “bacaan wajib” seperti buku Bung Hatta (Indonesia Vrij & Tujuan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia), buku Indonesia Menggugat karya Soekarno, serta majalah Daulat Rakyat.

Bagaimanapun juga, ingatan sejarah kita merekam narasi besar Bung Hatta, awalnya adalah buku, kemudian pendidikan sebagai alat perjuangan pokok demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Karena masyarakat yang cerdas (dengan kemampuan berpikir, merasa dan bertindak sesuai tuntutan zaman), akan memiliki kapasitas yang lebih baik dalam mengelola, mengorganisasikan, dan berdiri di atas kaki sendiri. (Ahmad Rafsanjani, bergiat di Archetype (Syndicate of Psychology Studies)***

1 thought on “Bung Hatta, Buku dan Perjuangan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s