Sahabat yang baik

jabat-tangan.jpg

Sahabat yang baik adalah karunia. Meski untuk mendapatkannya kita harus mencari. Sahaabat yang baik adalah aset. Tetapi ia bisa menjadi aset yang beku bila kita tidak bisa mengelolanya dengan baik. Kata kuncinya ada pada bagaimana kita berinteraksi. Sebab bersahabat pada dasarnya adalah soal interaksi.

Karena kita perlu memahami tiga hal mendasar terkait dengan interaksi antara sahabat tersebut. Artinya persahabatan yang baik serta saling menjadi sahabat yang baik sangat tergantung dari bagaimana interaksi itu dijalankan. Tetapi pertanyaan tentang bagaimana mencari sahabat yang baik lalu memeliharanya, sama juga dengan pertanyaan bagaimana diri kita sendiri akan menjadi. Akan menjadi sahabat seperti apakah diri kita bagi orang lain.

Mungkin kita pernah terlalu berharap banyak pada sahabat dan akhirnya kecewa karena harapan kita tidak terpenuhi oleh sahabat kita. Saat itu seharusnya kita juga merenungkan kembali hal apa yang telah kita lakukan untuk sahabat kita, perngorbanan yang kita lakukan untuk sahabat kita. Sahabat, mungkin kita pernah bersilang pendapat dengannya tapi jangan pernah menganggap bahwa itu sebuah batu sandungan.

Banyak tokoh-tokoh besar yang bersahabat sangat dekat, dan dalam perjalanan hidupnya mereka berbeda pendapat dan bahkan berbeda ideologi. Kita ambil contoh, Bung Hatta sangat bersahabat dekat dengan bung Karno, bahkan perkenalan bung Hatta dengan isterinya pun atas jasa dan bantuan bung Karno. Di tahun 1950-an mereka berbeda pendapat dan politik sehingga bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI. Tapi bung Hatta tidak mendendam dengan sahabatnya itu, walaupun di media bung Hatta terkadang mengkritik kebijakan Bung Karno tapi bukan berarti mereka saling bermusuhan.

Diakhir hayatnya Bung Karno sakit keras, dan Bung Hatta datang menjenguk sahabatnya yang sedang terbaring sakit tersebut. Pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir bung karno dengan sabahatnya, Hatta.

Dalam islam persahabatan mempunyai tempat sangat istimewa. Salah satu kewajiban seorang anak yang telah ditinggal orang tuanya adalah menjalin silaturahmi dengan sahabat-sahabat almarhum orang tuanya.

“Andai bukan karena bangun diwaktu sahur dan berteman dengan orang-orang yang baik, niscaya aku tidak mau memilih tinggal di dunia ini” ( Imam Syafi’i rahimahullah ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s