Monthly Archives: May, 2008

Selamat Jalan Bung..!

Seorang putra bangsa yang jujur dan begitu mencintai bangsa ini telah tiada. Seorang yang lurus dan rela berkorban demi sebuah idealisme dan komitmen dengan pendirian nya.

Sebagai seorang politisi, mungkin beliau satu diantara sedikit orang yang bisa tetap teguh bertahan dengan pendirian nya, tidak terbawa arus dan tidak mau hidup dalam sebuah sandiwara.

Jika saja beliau mau hidup dalam “kepura-puraan” mungkin langkahnya meninggalkan kursi empuk di DPR tidak akan pernah terjadi. Padahal saat itu posisi nya di PDIP sangat kuat, tapi itulah sebuah idealisme yang tidak pernah mengenal kopromi.

Harapan dan cintannya terhadap bangsa ini sedemikian besar, sehingga ketika dia melihat dengan jelas betapa carut-marutnya bangsa ini beliau sangat kecewa. Kekecewaan itu kian mendalam ketika kendaraan perjuangan nya ( partai) tidak lagi bisa menampung “kejujuran” nya.

Selamat jalan pak…
Kami bangga Indonesia memiliki putra terbaik seperti bapak.
Cinta bapak pada negeri ini tidak akan pernah sia-sia.
Tetap akan jadi bara nasionalisme, memupuk semangat negeri ini untuk mencintai bangsa nya.

( Mengenang Sophan Sophian )

Advertisements

100 Tahun kebangkitan Nasional

Tahun ini kita merayakan 100 tahun kebangkitan nasional. Mari kita kembali membaca sejarah, ketika 100 tahun lalu pemuda Indonesia berani mendobrak belenggu penjajah dengan mendirikan Budi Utomo. Sebuah momen sejarah yang akan menjadi tonggak kebangkitan sebuah bangsa.

Ada sebuah kepercayaan bahwa dalam setiap 100 tahun akan hadir orang-orang yang akan membawa perubahan dan pada akhirnya akan membangkitkan suatu bangsa menuju kehidupan yang lebih baik. Ditahun ini kita akan menunggu apakah kepercayaan itu akan berlaku di Indoensia.

Saat ini pada momen kebangkitan nasional saya sangat berharap akan bangkitnya kebanggaan akan bangsa Indonesia, kebanggaan seorang warga negara ketika mereka merasa warganegara indonesia. Tapi itu sepertinya sulit, karena bangsa dan negara Indonesia sendiri gak pernah bangga terhadap warga negaranya. Contohnya aktualnya adalah didunia infotainment, artis atau orang dengan canpuran darah luar ( indo) justru lebih gampang menjadi selebritis dan dijadikan favorit oleh penontonnya, dan bahkan ada beberapa dari mereka bukan seorang WNI.

Jika pemerintah berharap nasionalisme akan tumbuh, maka seharusnya pemerintah lebih berpihak kepada kepentingan nasional dan warganegaranya. Nasionalisme dan kebanggaan terhadap Indonesia tidak akan hadir dari perut yang lapar, dari pemikiran yang terbelakang, dan dari ketidakberpihakan negara kepada warganya.

100 tahun angka yang cukup panjang untuk menggambarkan perjalanan sebuah bangsa. Melihat keadaan sekarang sungguh saya hampir tidak percaya bahwa bangsa ini telah bangkit sejak 100 tahun yang lalu dan telah merdeka sejak 63 tahun yang lalu. Dan yang selalu saya risaukan adalah akankah saya bisa melihat bangsa ini maju dan menjadi kekuatan dunia, yang rakyatnya makmur, disegani bangsa-bangsa. Untuk melihat itu yang berharap tidak menunggu 100 tahun lagi.