Asy’ariyah

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran-aliran yang muncul sebelumnya. Penamaannya dinisbahkan kepada Abu Hasan Ali al-Asy’ari yang semula adalah seorang pengikut Mu’tazilah. Aliran ini berusaha menghidupkan kembali pemahaman keagamaan kepada al-Qur’an dan al-Hadith sebagaimana yang dipahami dan dipraktekkan oleh generasi salaf tetapi dengan mempergunakan argumentasi bercorak kalamiyah.

Asy’ari percaya bahwa fungsi akal adalah sebatas mengetahui hal-hal yang empiri (kongkrit), sedangkan wahyu memberi informasi tentang hal-hal yang lebih luas termasuk soal metafisika. Ia menerima keabsahan khabar ahad sebagai hujjah dalam bidang akidah. Terkait persoalan iman, Asy’ari mendefinisikannya sebagai tasdiq (pengakuan atau pembenaran) dengan hati, lisan dan perbuatan. Iman bersifat fluktuatif, dapat bertambah dan berkurang (yazid wa yanqus). Dengan demikian, pelaku dosa besar dipandang tetap sebagai seorang mukmin selama mengimani Allah dan Rasul-Nya. Hanya saja ia ‘asi atau mukmin yang berbuat maksiat. Perkara dosanya diserahkan sepenuhnya kepada Allah di akhirat kelak.

Tidak seperti Mu’tazilah, terkait aspek ketuhanan Asyariyah meyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat. Kalam Allah yang menurut Mu’tazilah adalah makhluk, menurut Asyariyah perlu dibedakan pengertiannya menjadi kalam majazi dan kalam nafsi. Kalam majazi adalah al-Qur’an dalam bentuk tertulis yang dipegang manusia dan bersifat baru. Sedangkan kalam nafsi bersifat abadi bersamaan dengan wujud Allah. Tuhan dalam kacamata Asy’ariyah bersifat mutlak baik dalam kekuasaan maupun keadilannya. Dalam kekuasaannya Tuhan bebas berkehendak dan berbuat, dan perbuatannya tersebut pasti bersifat baik dan adil. Hal ini menjadi kontra wacana dari paham Mu’tazilah yang mempercayai keniscayaan prinsip keadilan dan al-shalah wa al-aslah terhadap perilaku Tuhan. Asy’ariyah juga percaya bahwa Tuhan itu maujud dan karenanya dapat dilihat di akhirat dengan mata telanjang oleh penghuni surga. Mereka cenderung menolak takwil dan menerima penafsiran harfiah sekalipun tidak menerima tasybih (penyerupaan bentuk) dan takyif (penyerupaan cara).

Pokok-pokok pemikiran al-Asy’ari yang dijuluki sebagai Imam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah ini semakin lama kian memperoleh pengikut. Bahkan sepeninggalnya, pemikirannya masih dapat menjangkau wilayah persebaran yang sangat luas. Mazhab teologi ini kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh lain sesudahnya seperti Abu Bakar al-Baqillani dan Imam al-Ghazali.

Sumbernya dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s