Salafiyah

Gerakan pemikiran ini tumbuh terutama dalam tradisi mazhab Imam Ahmad bin Hanbal yang dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah pada abad ke-7 H dan kemudian oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-12 H. Kaum salafiyah ini mendakwahkan kepada umat agar dalam hal akidah mereka kembali kepada prinsip-prinsip yang dipegang oleh kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in. Masalah akidah hanya mungkin diambil dari nash-nash yang ada dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Akal hanya menjadi bukti dan bukan pemutus perkara akidah. Akal tidak memiliki otoritas untuk menakwilkan nash. Jadi, akal harus berjalan di belakang dalil naqli untuk mendukung dan menguatkannya. Dengan pola metodologis semacam ini, Salafiyah mengkritik aliran-aliran kalam seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah yang dalam pemahaman akidahnya memakai metode falsafi yang diimpor dari logika Yunani. Terhadap mereka yang berlainan faham tersebut, kaum salafi cenderung bersikap tidak mengkafirkan, tetapi hanya menganggap sesat.

Dalam pemikirannya, Salafiyah meyakini bahwa wahdaniyah (keesaan Allah) merupakan asas pertama Islam yang meliputi tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa sifat. Mereka menetapkan sifat-sifat Allah apa saja (termasuk sifat perbuatan dan dzat) sebagaimana tersurat dalam nash dengan makna lahirnya tanpa ta’til (peniadaan), ta’wil, tasybih, tamtsil dan takyif. Dalam hal ini mereka menafsirkan sebatas makna dzahirnya sementara hakikatnya dipasrahkan kepada Allah. Inilah yang disebut dengan istilah tafwidh (pasrah tanpa menakwilkan).

Tetapi faham yang diklaim sebagai mazhab kaum salaf ini sebenarnya memperoleh kritik bahkan sejak masa awal kemunculannya. Al-Khatib ibn al-Jauzi misalnya keberatan jika faham ini dinisbatkan sebagai mazhab teologi kaum salaf. Ia menyatakan bahwa tawfidh sebagaimana dimaksudkan tersebut (yang kala itu dipopulerkan oleh al-Qadi Abu Ya’la) sejatinya adalah konstruk pemikiran yang masih mempunyai anasir tasybih, yakni memperlakukan Allah seolah benda inderawi atau makhluk. Kemudian al-Ghazali juga mengkritik hal senada bahwa apabila kita memberi makna jism kepada Allah dengan penerjemahan lafdziyah sehingga mengimperasikan pemahaman bahwa Allah memiliki sejumlah anggota badan, maka sebenarnya secara lafdziyah juga makna jism itu mengimperasikan pula adanya anasir daging, tulang, urat dan darah yang mempunyai panjang, lebar dan isi yang menghalangi selain jism itu untuk menempati suatu ruang tertentu yang ditempatinya, kecuali ia menyingkir darinya. Maka dari itu, pemberian Allah dengan sifat-sifat inderawi ini mustahil bagi-Nya. Maka menurutnya, siapapun yang terbersit dalam hatinya bahwa Allah mempunyai jism yang terdiri dari beberapa anggota tubuh hendaknya menyadari dirinya bahwa ia serupa dengan seorang penyembah berhala. Karena jism itu diciptakan dan menyembah ciptaan (makhluk) adalah kafir. Padahal secara kebahasaan pula, lafal-lafal sifat itu (tangan, jari, wajah, mata, istiwa’, ilmu, kekuatan, pendengaran dan penglihatan) sebenarnya bisa dimaknai bukan sebaga jism tetapi sebagai perbuatan. Jadi, lafal tersebut bukannya ditafsirkan secara tekstual untuk pengertian sifat-sifat dzat Allah, melainkan dengan makna substansi yang merujuk pada pengertian sifat-sifat perbuatan-Nya. Misalnya kata “tangan” bisa dipinjam untuk pengertian yang bukan jism, seperti “negeri ini berada di tangan penguasa”. Kalimat ini jelas bisa dipahami pengertiannya sekalipun penguasa tersebut secara aktual tidak memiliki tangan.

Tentang al-Qur’an, mereka menyatakan bahwa kalam Allah adalah qadim bersama dzat. Dengan sifat kalam itu Allah berbicara dengan makhluk-Nya seperti al-Qur’an, Taurat dan Injil yang bukan makhluk, tetapi bukan pula qadim. Sementara dalam hal perbuatan manusia mereka memandang bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dengan berbagai sebab yang diciptakannya termasuk manusia dengan segala potensi yang menjadi sebab perbuatannya. Jadi manusia adalah pelaku sebenarnya atas perbuatannya sendiri dengan potensi yang diberikan Allah kepadanya. Disini dibedakan antara ridha, suka dan kehendak (iradah) Allah. Kehendak Allah terkadang terjadi pada sesuatu yang bertentangan dengan perintah dan larangan-Nya. Tetapi suka dan ridha-Nya hanya akan sejalan dengan perintah dan larangan-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak meridhai maksiat, tetapi Dia tetap menghendakinya terjadi untuk suatu hikmah yang terpuji. Menurut mereka, dalam setiap perbuatan Allah pasti terkandung hikmah yang baik dan terpuji. Tetapi hikmah tersebut tidak memaksa Allah untuk mengubah-ubah kehendak-Nya. Hikmah ini adalah penjelasan terhadap kesempurnaan penciptaan, perintah dan larangan-Nya.

Dalam aspek ritual dimana diyakini adanya dua prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu penyembahan hanya kepada Allah semata dan dilakukan sesuai dengan yang disyariatkan oleh Rasul-Nya, Salafiyah beroposisi terhadap tiga kebiasaan berikut, yaitu taqarrub kepada Allah melalui orang-orang saleh atau wali, meminta pertolongan dan taqarrub dengan bertawassul melalui orang yang telah meninggal, dan berziarah ke makam nabi atau orang saleh untuk mengkultuskannya atau meminta berkah.

Sumbernya dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s