Category Archives: Catatan Kuliah

Study Kasus Decision Support System : DSS Dalam Prakualifikasi Kontraktor

ABSTRAK: Kegagalan dalam prakualifikasi kontraktor terjadi karena owner tidak tahu kemampuan teknis kontraktor sehingga menyebabkan terjadinya kegagalan proyek.  Decision Support System (DSS) yang  dikembangkan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mencari hubungan antara kualitas dari kriteria-kriteria evaluasi prakualifikasi terhadap kinerja yang dihasilkan. Penilaian meliputi kinerja waktu, kinerja biaya, dan kinerja kualitas. Pembuatan model base dilakukan dengan mencari suatu formula yang dilakukan dengan analisis diskriminan untuk membedakan kelompok
yang kinerjanya berhasil dan yang gagal. Kriteria penilaian yang dipergunakan mengacu pada  Petunjuk Teknis pelaksanaan prakualifikasi dari pemerintah Indonesia, kriteria yang dikembangkan Russel, dan HOLT, yaitu meliputi kriteria keuangan, pengalaman, kinerja masa lampau, dan manajemen dan organisasi.  Output  dari DSS dapat memprediksi kinerja dan memilah kinerja kontraktor berdasarkan nilai indeks kinerja yang dipergunakan.  DSS berhasil memprediksi kinerja kontraktor dengan tingkat akurasi yang tinggi.

File nya bisa di download disini

Advertisements

Salafiyah

Gerakan pemikiran ini tumbuh terutama dalam tradisi mazhab Imam Ahmad bin Hanbal yang dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah pada abad ke-7 H dan kemudian oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-12 H. Kaum salafiyah ini mendakwahkan kepada umat agar dalam hal akidah mereka kembali kepada prinsip-prinsip yang dipegang oleh kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in. Masalah akidah hanya mungkin diambil dari nash-nash yang ada dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Akal hanya menjadi bukti dan bukan pemutus perkara akidah. Akal tidak memiliki otoritas untuk menakwilkan nash. Jadi, akal harus berjalan di belakang dalil naqli untuk mendukung dan menguatkannya. Dengan pola metodologis semacam ini, Salafiyah mengkritik aliran-aliran kalam seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidiyah yang dalam pemahaman akidahnya memakai metode falsafi yang diimpor dari logika Yunani. Terhadap mereka yang berlainan faham tersebut, kaum salafi cenderung bersikap tidak mengkafirkan, tetapi hanya menganggap sesat.

Dalam pemikirannya, Salafiyah meyakini bahwa wahdaniyah (keesaan Allah) merupakan asas pertama Islam yang meliputi tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa sifat. Mereka menetapkan sifat-sifat Allah apa saja (termasuk sifat perbuatan dan dzat) sebagaimana tersurat dalam nash dengan makna lahirnya tanpa ta’til (peniadaan), ta’wil, tasybih, tamtsil dan takyif. Dalam hal ini mereka menafsirkan sebatas makna dzahirnya sementara hakikatnya dipasrahkan kepada Allah. Inilah yang disebut dengan istilah tafwidh (pasrah tanpa menakwilkan).

Tetapi faham yang diklaim sebagai mazhab kaum salaf ini sebenarnya memperoleh kritik bahkan sejak masa awal kemunculannya. Al-Khatib ibn al-Jauzi misalnya keberatan jika faham ini dinisbatkan sebagai mazhab teologi kaum salaf. Ia menyatakan bahwa tawfidh sebagaimana dimaksudkan tersebut (yang kala itu dipopulerkan oleh al-Qadi Abu Ya’la) sejatinya adalah konstruk pemikiran yang masih mempunyai anasir tasybih, yakni memperlakukan Allah seolah benda inderawi atau makhluk. Kemudian al-Ghazali juga mengkritik hal senada bahwa apabila kita memberi makna jism kepada Allah dengan penerjemahan lafdziyah sehingga mengimperasikan pemahaman bahwa Allah memiliki sejumlah anggota badan, maka sebenarnya secara lafdziyah juga makna jism itu mengimperasikan pula adanya anasir daging, tulang, urat dan darah yang mempunyai panjang, lebar dan isi yang menghalangi selain jism itu untuk menempati suatu ruang tertentu yang ditempatinya, kecuali ia menyingkir darinya. Maka dari itu, pemberian Allah dengan sifat-sifat inderawi ini mustahil bagi-Nya. Maka menurutnya, siapapun yang terbersit dalam hatinya bahwa Allah mempunyai jism yang terdiri dari beberapa anggota tubuh hendaknya menyadari dirinya bahwa ia serupa dengan seorang penyembah berhala. Karena jism itu diciptakan dan menyembah ciptaan (makhluk) adalah kafir. Padahal secara kebahasaan pula, lafal-lafal sifat itu (tangan, jari, wajah, mata, istiwa’, ilmu, kekuatan, pendengaran dan penglihatan) sebenarnya bisa dimaknai bukan sebaga jism tetapi sebagai perbuatan. Jadi, lafal tersebut bukannya ditafsirkan secara tekstual untuk pengertian sifat-sifat dzat Allah, melainkan dengan makna substansi yang merujuk pada pengertian sifat-sifat perbuatan-Nya. Misalnya kata “tangan” bisa dipinjam untuk pengertian yang bukan jism, seperti “negeri ini berada di tangan penguasa”. Kalimat ini jelas bisa dipahami pengertiannya sekalipun penguasa tersebut secara aktual tidak memiliki tangan.

Tentang al-Qur’an, mereka menyatakan bahwa kalam Allah adalah qadim bersama dzat. Dengan sifat kalam itu Allah berbicara dengan makhluk-Nya seperti al-Qur’an, Taurat dan Injil yang bukan makhluk, tetapi bukan pula qadim. Sementara dalam hal perbuatan manusia mereka memandang bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dengan berbagai sebab yang diciptakannya termasuk manusia dengan segala potensi yang menjadi sebab perbuatannya. Jadi manusia adalah pelaku sebenarnya atas perbuatannya sendiri dengan potensi yang diberikan Allah kepadanya. Disini dibedakan antara ridha, suka dan kehendak (iradah) Allah. Kehendak Allah terkadang terjadi pada sesuatu yang bertentangan dengan perintah dan larangan-Nya. Tetapi suka dan ridha-Nya hanya akan sejalan dengan perintah dan larangan-Nya. Dia tidak menyukai dan tidak meridhai maksiat, tetapi Dia tetap menghendakinya terjadi untuk suatu hikmah yang terpuji. Menurut mereka, dalam setiap perbuatan Allah pasti terkandung hikmah yang baik dan terpuji. Tetapi hikmah tersebut tidak memaksa Allah untuk mengubah-ubah kehendak-Nya. Hikmah ini adalah penjelasan terhadap kesempurnaan penciptaan, perintah dan larangan-Nya.

Dalam aspek ritual dimana diyakini adanya dua prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu penyembahan hanya kepada Allah semata dan dilakukan sesuai dengan yang disyariatkan oleh Rasul-Nya, Salafiyah beroposisi terhadap tiga kebiasaan berikut, yaitu taqarrub kepada Allah melalui orang-orang saleh atau wali, meminta pertolongan dan taqarrub dengan bertawassul melalui orang yang telah meninggal, dan berziarah ke makam nabi atau orang saleh untuk mengkultuskannya atau meminta berkah.

Sumbernya dari sini

Maturidiyah

Aliran ini dinisbahkan kepada Imam al-Huda Abu Mansur Muhammad bin Muhammad al-Maturidi dari Samarkand. Dari segi pemikirannya, al-Maturidi banyak memiliki kesamaan dengan al-Asy’ari, sekalipun ada beberapa perbedaan cukup signifikan antara keduanya. Misalnya terkait persoalan ma’rifah (mengetahui Allah), Asy’ariyah menganggapnya wajib berdasarkan syara’, sedangkan Maturidiyah melihat kewajiban ini juga dapat dicapai melalui penalaran akal. Demikian pula perihal kebaikan, Asyariyah tidak mengakui bahwa penilaian atas hal itu dapat dicapai melalui penalaran akal atas substansinya. Sementara Maturidiyah menerima kemampuan akal untuk menilai kebaikan sesuatu berdasarkan substansinya. Dari sini dapat diketahui bahwa Maturidiyah memberikan otoritas lebih besar kepada akal manusia dibandingkan dengan Asy’ariyah. Sekalipun demikian, pemikiran keagamaan Maturidiyah senantiasa menjadikan dalil-dalil syara’ sebagai rujukan dan bingkai penafsirannya.

Perbedaan lainnya juga nampak seputar perbuatan Allah dimana Asy’ariyah menyatakannya tidak terkait dengan sebab karena Allah tidak dikenai pertanggungjawaban. Sedangkan Maturidiyah dengan redaksi berbeda lebih cenderung sejajar dengan pemikiran Mu’tazilah yang menyatakan bahwa dalam tiap perbuatan-Nya pasti terdapat hikmah dan tujuan, karena mustahil Allah Yang Maha Bijaksana sampai berbuat iseng dan kesia-siaan. Tentang konsep kasb, antara keduanya juga terdapat titik perbedaan yang signifikan. Asyariyah menetapkan kasb dalam kebersamaan antara perbuatan yang diciptakan Allah dan ikhtiar hamba. Tetapi, hamba sendiri tidak memiliki pengaruh terhadap kasb tersebut karena Allah-lah yang menciptakannya. Implikasi logis pandangan ini memang bersifat fatalis karena ikhtiar hamba menjadi tidak berarti karena iapun dipengaruhi oleh Allah. Sedangkan Maturidiyah memberi pengakuan bahwa hamba memiliki potensi kebebasan dalam kasb. Dengan potensinya itu ia bebas memilih untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan tertentu. Dan dalam perbuatan itulah kebersamaan dengan penciptaan Allah terjadi.

Berbicara sifat-sifat Allah, Maturidi sejalan dengan Mu’tazilah bahwa sifat-sifat tersebut tidak memiliki eksistensi mandiri yang berada di luar Dzat-Nya. Padahal Asy’ariyah justru berpendapat bahwa sifat-sifat Allah memiliki eksistensi sendiri di luar dzat-Nya. Hanya saja ia sepakat dengan Asy’ariyah bahwa Allah dapat dilihat mata manusia penghuni surga di hari kiamat. Adapun persoalan al-Qur’an, Maturidiyah menyifatinya sebagai baru, tetapi tidak menyebutnya makhluk. Ini berbeda dengan Mu’tazilah yang menegaskan kemakhlukan al-Qur’an dan Asyariyah yang menyifatinya bukan makhluk tetapi tidak menyatakannya qadim. Sedangkan kalam dilihat Maturidiyah sebagai salah satu sifat Allah yang melekat dengan dzat-Nya. Terhadap ayat-ayat sifat yang mutasyabih, Maturidiah memilih melakukan takwil dengan membawanya kepada arti yang muhkam dengan tetap menghindari jebakan antropomorfisme.

Maturidi dalam persoalan iman melihatnya sebagai suatu kepercayaan dalam hati, sedangkan pernyataan lisan dan amal perbuatan hanya sebagai pelengkap saja. Jadi, sejauh seseorang meyakini keesaan Allah dan kerasulan Muhammad, sekalipun tidak melaksanakan ibadah, dia masih masuk kategori beriman. Tetapi pandangan ini tidak persis sama dengan Murjiah karena dia meyakini secara tegas bahwa pelaku dosa besar adalah fasik dan masih berhak masuk surga (atau tidak kekal di neraka) setelah dosa-dosanya diampuni Tuhan. Ini berarti juga menyelisihi faham Mu’tazilah tentang manzilah.

Dalam aliran Maturidiyah sebenarnya dikenal dua corak aliran, yakni aliran Samarkand dan Bukhara. Letak perbedaannya pada tingkat pengakuan akal sebagai instrumen penafsiran kebenaran. Aliran Samarkand dikenal lebih dekat dengan Mu’tazilah dalam beberapa pemikirannya, seperti penerimaannya atas takwil terhadap ayat-ayat yang memuat sifat-sifat antroposentris dari Tuhan. Sementara aliran Bukhara dalam hal ini lebih dekat dengan metodologi berfikirnya Asy’ariyah.

Sumbernya dari sini

Asy’ariyah

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran-aliran yang muncul sebelumnya. Penamaannya dinisbahkan kepada Abu Hasan Ali al-Asy’ari yang semula adalah seorang pengikut Mu’tazilah. Aliran ini berusaha menghidupkan kembali pemahaman keagamaan kepada al-Qur’an dan al-Hadith sebagaimana yang dipahami dan dipraktekkan oleh generasi salaf tetapi dengan mempergunakan argumentasi bercorak kalamiyah.

Asy’ari percaya bahwa fungsi akal adalah sebatas mengetahui hal-hal yang empiri (kongkrit), sedangkan wahyu memberi informasi tentang hal-hal yang lebih luas termasuk soal metafisika. Ia menerima keabsahan khabar ahad sebagai hujjah dalam bidang akidah. Terkait persoalan iman, Asy’ari mendefinisikannya sebagai tasdiq (pengakuan atau pembenaran) dengan hati, lisan dan perbuatan. Iman bersifat fluktuatif, dapat bertambah dan berkurang (yazid wa yanqus). Dengan demikian, pelaku dosa besar dipandang tetap sebagai seorang mukmin selama mengimani Allah dan Rasul-Nya. Hanya saja ia ‘asi atau mukmin yang berbuat maksiat. Perkara dosanya diserahkan sepenuhnya kepada Allah di akhirat kelak.

Tidak seperti Mu’tazilah, terkait aspek ketuhanan Asyariyah meyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat. Kalam Allah yang menurut Mu’tazilah adalah makhluk, menurut Asyariyah perlu dibedakan pengertiannya menjadi kalam majazi dan kalam nafsi. Kalam majazi adalah al-Qur’an dalam bentuk tertulis yang dipegang manusia dan bersifat baru. Sedangkan kalam nafsi bersifat abadi bersamaan dengan wujud Allah. Tuhan dalam kacamata Asy’ariyah bersifat mutlak baik dalam kekuasaan maupun keadilannya. Dalam kekuasaannya Tuhan bebas berkehendak dan berbuat, dan perbuatannya tersebut pasti bersifat baik dan adil. Hal ini menjadi kontra wacana dari paham Mu’tazilah yang mempercayai keniscayaan prinsip keadilan dan al-shalah wa al-aslah terhadap perilaku Tuhan. Asy’ariyah juga percaya bahwa Tuhan itu maujud dan karenanya dapat dilihat di akhirat dengan mata telanjang oleh penghuni surga. Mereka cenderung menolak takwil dan menerima penafsiran harfiah sekalipun tidak menerima tasybih (penyerupaan bentuk) dan takyif (penyerupaan cara).

Pokok-pokok pemikiran al-Asy’ari yang dijuluki sebagai Imam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah ini semakin lama kian memperoleh pengikut. Bahkan sepeninggalnya, pemikirannya masih dapat menjangkau wilayah persebaran yang sangat luas. Mazhab teologi ini kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh lain sesudahnya seperti Abu Bakar al-Baqillani dan Imam al-Ghazali.

Sumbernya dari sini

Syiah

Secara harfiah syiah berarti pengikut atau kelompok. Tetapi dalam perkembangannya, istilah ini lekat dengan pengikut setia Ali yang memilih beroposisi terhadap kekuasaan Muawiyah pasca peristiwa arbitrasi. Mereka ini berkeyakinan bahwa yang sesungguhnya berhak menggantikan Nabi sebagai pemimpin adalah keluarganya (ahl al-bait). Dan di antara keluarganya yang paling berhak adalah Ali bin Abi Talib. Sepeninggal Ali, hak imamah (kepemimpinan umat Islam) tersebut beralih kepada anak-anak keturunannya dari Fatimah al-Zahrah. Dalam paham mereka, imamah haruslah berdasar pada nash dan penunjukan. Beberapa nash hadits yang mereka yakini benar dan sahih berasal dari Nabi saw antara lain menyatakan:
من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من ولاه وعاد من عاداه
“Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya juga. Ya Allah, tolong dan lindungilah mereka yang menolong dan melindunginya (yaitu Ali), dan musuhilah mereka yang memusuhinya.”
أقضاكم علي
“Orang yang paling pantas menjadi hakim di antara kalian adalah Ali.”
Tentu saja, mereka yang tidak sependapat dengan Syiah meragukan keabsahan hadits-hadits tersebut.

Dalam aliran Syiah muncul beberapa sekte yang sebagiannya ekstrim (ghulat) dan sebagian lainnya moderat. Di antara sekte-sekte ekstrim tersebut ada yang berfaham bahwa Ali menempati derajat ketuhanan, seperti diyakini sebagian pengikut Saba’iyah. Ada juga yang melebihkan kedudukannya di atas nabi Muhammad saw seperti dipercaya Ghurabiyah. Sebagiannya lagi, seperti dilakukan aliran Kaisaniyah, mengangkat kedudukan cucu dan pewaris ilmu Ali yaitu Muhammad bin al-Hanafiyah sejajar dengan para nabi. Tetapi dalam perkembangan sejarahnya, terdapat dua sekte syiah yang terkenal, yaitu Imamiyah dan Zaidiyah.
Sekte Imamiyah berkeyakinan bahwa imamah sesudah Nabi sudah menjadi hak dan harus diberikan kepada Ali. Umumnya kaum syiah sekarang adalah para penganut sekte Imamiyah ini yang mempunyai dua aliran utama, yaitu Ismailiyah (Sab’iyah) dan Itsna Asyariyah. Nama Ismailiyah diambil dari imam yang ketujuh dalam silsilah mereka yakni Ismail bin Ja’far al-Sadiq. Sekte ini dikenal juga sebagai Sab’iyah karena meyakini adanya tujuh imam yang tidak mastur dengan urutan sebagai berikut:
– Ali bin Abi Thalib
– Hasan bin Ali
– Husain bin Ali
– Ali bin Husain
– Muhammad bin Ali
– Ja’far bin Muhammad
– Ismail bin Ja’far al-Sadiq (w. 145 H)
Keturunan imam selanjutnya menghilang (mastur) dan dipercayai kelak akan kembali pada akhir zaman untuk membangun kerajaan Allah (the Kingdom of God) yang penuh dengan keadilan.

Sedangkan sekte Itsna Asyariyah adalah aliran Imamiyah yang meyakini bahwa bilangan imam berjumah dua belas orang. Imam-imam tersebut adalah:
– Ali bin Abi Thalib (al-Murtadha, w. 40 H)
– Hasan bin Ali (al-Zaki, w. 50 H)
– Husain bin Ali (Sayyid al-Syuhada’, w. 61 H)
– Ali bin Husain (Zainal Abidin, w. 95 H)
– Muhammad bin Ali bin Husain (Al-Baqir, w. 114 H)
– Ja’far bin Muhammad (Al-Sadiq, w. 147 H)
– Musa bin Ja’far (Al-Kazim, w. 183 H)
– Ali bin Musa (Al-Ridha, w. 203 H)
– Muhammad bin Ali (Al-Jawwad, w. 220 H)
– Ali bin Muhammad (Al-Hadi, w. 254 H)
– Muhammad bin Ali (Al-Askari, w. 260 H)
– Muhammad bin Hasan (Al-Mahdi al-Muntadzar, lahir 256 H)
Imam terakhir ini diyakini dalam keadaan tidak hadir (mastur) dan akan muncul kelak di waktu yang dikehendaki oleh Allah. Pada masa ketidakhadirannya, kekuasaan akan dipegang oleh wakil imam yang memenuhi kriteria mujtahid. Aliran ini dikenal juga dengan sebutan al-Musawiyah karena imamah berpindah dari imam ke-6 yaitu Ja’far bin Muhammad kepada Musa al-Kadzim. Selain itu mereka juga dikenal sebagai al-Rafidhah yang arti harfiahnya menolak, karena sikap penolakan mereka atas keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Dalam ajaran Imamiyah dikenal 5 doktrin fundamental, yaitu: imamah, ishmah, mahdiyah, raj’ah dan taqiyah. Imamah sudah menjadi salah satu rukun Islam bagi mereka. Maka barangsiapa meninggal dunia dan tidak mengetahui imamnya, ia termasuk dalam kategori mati secara jahiliyah. Seorang imam dipercaya memiliki kualitas ishmah karena mewarisi posisi kenabian yang ma’sum (infallible, terjaga dari kesalahan). Jika mereka melakukan kesalahan, maka Allah pasti menurunkan wahyu untuk meluruskan kesalahannya. Sedangkan doktrin mahdiyah (perihal al-mahdi) dan raj’ah (kedatangan kembali) dihubungkan dengan status imam mastur yang dipercaya akan muncul kembali sebagai mahdi yang membangun kerajaan Allah menjelang hari kiamat kelak. Ajaran ini tampaknya memiliki akar dalam ajaran agama Zarathustra yang dianut bangsa Persia sebelum kedatangan Islam. Sedangkan faham taqiyah yang berarti perlindungan dimaksudkan sebagai taktik strategis untuk merahasiakan eksistensi kesyiahannya dengan berpura-pura patuh di bawah dominasi kekuasaan khalifah yang memerangi mereka hingga kekuatan yang dipersiapkan cukup memadai untuk melakukan perlawanan terbuka. Taqiyah ini pada awalnya bersifat politis, tetapi pada gilirannya menjadi corak yang kental dalam konstruk keberagamaan mereka.

Sementara sekte Zaidiyah dinisbahkan kepada pengikut Zaid bin Ali bin Husain. Sejarahnya, sepeninggal Zainal Abidin, sebagian besar pengikut Syiah membait Muhammad al-Baqir dan sebagiannya lagi membaiat Zaid. Sekte Zaidiyah tidak membedakan hak imamah antara keturunan Hasan maupun Husain karena keduanya sama-sama anak keturunan Fatimah dan Ali. Mereka juga memperkenankan adanya kepemimpinan ganda untuk wilayah yang berbeda sejauh memenuhi kriteria dan syarat-syarat sebagai imam. Berbeda dengan sekte Imamiyah, Zaidiyah berpendapat bahwa nash tentang imamah Ali itu cenderung merujuk pada pengertian sifat dan bukannya kepada pribadi Ali. Atas dasar ini Zaidiyah melihat bolehnya umat mengangkat imam dari orang yang kurang utama sekalipun di tengah-tengah mereka ada orang yang lebih utama. Maka dari itu, mereka memandang keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman sekalipun secara pribadi, Ali dinilai oleh mereka memiliki keutamaan lebih dibanding ketiga khalifah sebelumnya. Sifat moderat faham ini kemudian berubah menjadi ekstrim di tangan penganut Zaidiyah pada generasi selanjutnya. Tetapi kaum Zaidiyah yang sekarang berkembang di Yaman lebih dekat kepada faham aliran Zaidiyah generasi pertama.

Sumbernya dari sini