Category Archives: Desa

Bendera Karang Taruna

Bendera-Karta

Pembuatan

  1. Pembuatan Bendera Karang Taruna secara utuh harus sesuai dengan ketentuan dalam PRT Karang Taruna pasal 46 baik dalam ukuran maupun ketepatan warnanya;
  2. Pembuatan Bendera Karang Taruna dapat dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan baik dalam hal jumlah maupun penempatannya;
  3. Untuk kebutuhan dan penempatan dalam ruangan atau pada panggung upacara tertentu, Bendera Karang Taruna harus dibuat dari bahan beludru, sedangkan untuk penempatan diruang terbuka jalan-jalan) Bendera Karang Taruna harus dibuat dari bahan kain (katun) biasa.

Penggunaan dan Penempatan Bendera Karang Taruna

Penggunaan Bendera Karang Taruna diatur sebagai berikut:

  1. Untuk Kegiatan-kegiatan Forum pertemuan Karang Taruna, yakni: Temu Karya, Rapat Kerja, Rapat Pimpinan, RPP, dan Rapat Konsultasi;
  2. Untuk Kegiatan-kegiatan memperingati Hari-hari Besar Nasional;
  3. Untuk Kegiatan-kegiatan memperingati Hari-hari Besar Keagamaan;
  4. Untuk Kegiatan-kegiatan Karang Taruna lainnya baik yang bersifat pengumpulan/mobilisasi massa, rekretif, seni dan budaya, olah raga, dan bhakti sosial.

Penempatan Bendera Karang Taruna

Untuk Kegiatan di dalam ruangan, penempatan Bendera Karang Taruna diatur sebagai berikut:

  1. Bendera Karang Taruna ditempatkan di bagian muka/depan ruangan;
  2. Jika jumlahnya lebih dari satu, Bendera Karang Taruna harus ditempatkan dalam posisi mengapit Bendera Merah Putih dan Panji Karang Taruna;
  3. Jika tidak ada Panji Karang Taruna, maka Bendera Karang Taruna hanya mengapit Bendera Merah Putih;
  4. Jika Jumlahnya hanya 1, Bendera Karang Taruna harus diletakkan di sebelah kanan Bendera Kota dari tampak muka, dan jika ada Panji Karang Taruna harus diletakkan berurutan setelah Bendera Merah Putih dan Panji Karang Taruna dari kiri ke kanan pada tampak depan/muka;
  5. Bendera Karang Taruna baik yang ditempatkan berurutan maupun mengapit harus memiliki ketinggian lebih rendah 20 cm;
  6. Dalam keadaan tertentu, jika tidak ada tiang, Bendera Karang Taruna boleh ditempatkan di dinding bagian muka dari ruangan pertemuan tersebut;
  7. Tinggi tiang untuk Bendera Karang Taruna yang ditempatkan di dalam ruangan adalah minimal 180 cm jika tinggi tiang untuk Panji Karang Taruna 2 m, dan diatur seterusnya diatur demikian;
  8. Pemasangan Bendera Karang Taruna di dalam ruangan adalah selama kegiatan berlangsung, kecuali pemasangan di kantor/Sekretariat Karang Taruna yang terus menerus sepanjang organisasi Karang Taruna belum dibubarkan;

 

Untuk Kegiatan di luar ruangan, penempatan Bendera Karang Taruna diatur sebagai berikut:

  1. Bendera Karang Taruna yang di tempatkan di luar ruangan harus minimal berjumlah 2 (dua) buah;
  2. Bendera Karang Taruna yang ditempatkan di luar gedung pertemuan atau kantor/sekretariat diletakkan di antara pintu masuk bagian luar (gerbang) luar dari gedung tersebut, sedangkan jika jumlahnya lebih dari 2 (dua) selain ditempatkan di antara pintu masuk bagian tersebut juga ditempatkan di sepanjang pagar gedung tersebut dengan pengaturan peletakan yang menyesuaikan dengan kepantasan dan penghormatan terhadapnya;
  3. Bendera Karang Taruna yang di tempatkan di jalanan dapat diletakkan di sepanjang jalan yang bersangkutan baik di sisi kanan dan kirinya maupun di bagian tengah jalan tersebut jika memungkinkan, dengan jumlah minimal 3 (tiga) buah;
  4. Bendera Karang Taruna yang di tempatkan di halaman gedung pertemuan atau kantor/sekretariat dapat berada dalam posisi tegak lurus maupun miring (minimal 45′) sesuai dengan kepantasan dan penghormatan terhadapnya;
  5. Bendera Karang Taruna yang di tempatkan di jalanan harus berada dalam posisi tegak lurus dengan tinggi tiang berkisar 2-3 m;
  6. Pemasangan Bendera Karang Taruna di luar ruangan dilakukan minimal 1 (satu) minggu menjelang hari “H” dan diturunkan kembali selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah pelaksanaan kegiatan/acara;
  7. Apabila Karang Taruna ikut serta dalam kegiatan upacara hari-hari besar Kota, dianjurkan membawa Bendera Karang Taruna untuk diletakkan/dibawa oleh bagian depan barisan (komandan) pasukan Karang Taruna saat itu;

Bendera Karang Taruna tidak boleh:

  1. Digunakan untuk mengelap sesuatu yang kotor dan basah atau mengepel lantai;
  2. Menjadi alas tidur dan dipergunakan untuk penutup kepala;
  3. Dicorat-coret, dikotori, dirobek dan/atau dibakar di depan umum;
  4. Dikibarkan setengah tiang, sampai adanya ketentuan yang mengatur tentang itu;

Ketentuan perlakuan lainnya adalah sebagai berikut:

  1. Apabila tidak digunakan, harus dilipat dan disimpan dengan baik di tempat yang layak;
  2. Apabila hendak dimusnahkan, harus dibakar atau dirombak sehingga bentuknya tidak lagi berwujud Bendera Karang Taruna;
  3. Bendera Karang Taruna juga dapat digunakan untuk kepentingan ekspedisi, kegiatan perkemahan/Jambore dengan penempatan yang sesuai dengan kepantasan dan penghormatan terhadapnya;

Bendera Karang Taruna juga dapat digunakan di kendaraan tertentu dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Dalam Ukuran sebenarnya dapat diletakkan di badan mobil bagian muka, belakang, samping kiri maupun kanan sesuai dengan kepantasan;
  2. Dalam Ukuran kecil dapat diletakkan pada tiang mobil atau kaca spion yang memungkinkan untuk itu.
Advertisements

Keanggotaan Karang Taruna

Kategori Anggota

Pada dasamya keanggotaan Karang Taruna bersifat stelsel pasif, akan tetapi agar pengembangan dan pengarahan kader dan aktivitas Karang Taruna bisa lebih efektif, maka dikenal juga jenis keanggotaan yang lain yakni Anggota Aktif.

  1. Anggota Pasif adalah keanggotaan yang bersifat stelsel pasif (keanggotaan otomatis), yakni seluruh remaja dan pemuda yang berusia 13 sampai dengan 45 tahun;
  2. Anggota aktif adalah keanggotaan yang bersifat kader dan berusia 13 sampai dengan 45 tahun, karena potensi, bakat, dan produktivitasnya untuk mendukung pengembangan organisasi dan program- programnya.

Hak dan Kewajiban Anggota Karang Taruna

Setiap anggota memiliki hak :

  1. Mendapatkan pelayanan yang sama dalam rangka penyelenggaraan progran-program organisasi ;
  2. Menyampaikan pendapat, saran, bertanya, dan menyampaikan kritik baik secara lisan maupun tertulis kepada organisasi;
  3. Untuk menjadi pengurus Karang Taruna bagi setiap Anggota Aktif yang memenuhi persyaratan tertentu;
  4. Memilih dan dipilih bagi setiap Anggota Aktif sesuai dengan mekanisme organisasi;
  5. Memperoleh fasilitas keanggotaan.

Setiap anggota memiliki kewajiban :

  1. Mematuhi Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Karang Taruna serta ketentuan-ketentuan organisasi lainnya;
  2. Membayar Iuran;
  3. Menjaga nama baik organisasi;
  4. Mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan organisasi bagi Anggota Aktif.

 

Penerimaan dan Rekrutmen Keanggotaan

Rekruitmen Anggota Aktif dapat dilakukan dalam 2 (dua) mekanisme:

  1. Warga Karang Taruna yang telah mengikuti kegiatan selama 6 (enam) bulan berturut-­turut yang dibuktikan dalam catatan aktifitasnya kemudian diberikan Kartu Anggota;
  2. Warga Karang Taruna atas kesadaran sendiri, sukarela, dan permintaan sendiri menjadi Anggota Aktif dapat terlebih dahulu diberi Kartu Anggota melalui prosedur pendaftaran. Namun dapat dinyatakan sebagai Anggota Aktif setelah mengikuti kegiatan selama 6 (enam) bulan berturut-turut:

 

Syarat-syarat untuk menjadi Anggota Aktif sebagai berikut :

  1. Bersedia menerima Azas, Tujuan, dan menjalankan segala usaha organisasi;
  2. Mengikuti secara aktif sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan berturut-turut kegiatan-­kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi pada berbagai tingkatan yang ditandai dengan adanya surat rekomendasi dari pengurus yang bersangkutan;
  3. Bersedia dengan suka rela dan ikhlas mengundurkan diri (diberhentikan) sebagai Anggota Aktif apabila sudah tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya;
  4. Mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan tingkat I di Desa/Kelurahan yang bersangkutan.

 

Anggota Aktif dapat pindah dan diterima oleh wilayah lain dengan menunjukkan surat keterangan pindah dari pengurus asal dan/atau melaporkan ke pengurus wilayah lain tersebut.

Bukti Keanggotaan

  1. Bukti Keanggotaan bagi Anggota Aktif adalah Kartu Tanda Anggota (KTA), Buku Saku Keanggotaan (BSK), dan Surat Keputusan Keanggotaan (SKK);
  2. Bentuk dan ukuran KTA dan BSK ditetapkan sebagaimana terdapat dalam lampiran Buku Pedoman ini;
  3. KTA dan BSK dikeluarkan oleh Pengurus Karang Taruna Kota Bandung untuk mengarahkan dan membentuk pengelolaan keanggotaan yang bersifat Idenfikasi Terpadu;
  4. Format KTA dalam bentuk Kartu Pengenal yang berisi data Anggota Aktif yang meliputi:
    Tampak Depan: Nomor Induk Anggota, Nama, Tempat dan Tanggal Lahir, Pekerjaan, Alamat, Golongan darah, Foto yang bersangkutan ukuran 2 x 3, dan otoritas dari Pengurus Karang Taruna Kota Bandung;
    Tampak Belakang: dapat dipergunakan untuk Kartu Asuransi, Kartu Kredit; Catatan Pengurus atau dapat dikosongkan.

 

Format BSK dalam bentuk buku kecil berisi data aktifitas Anggota Aktif dalam Karang Taruna dan Kegiatan Sosial lainnya dilingkungan Desa/Kelurahan atau komunitas sosial sederajatnya, juga berisi ketentuan organisasi tentang keanggotaan secara umum yang diambil dari PD/PRT, PO-PO dan ketentuan organisasi lainnya.

Pengelolaan Keanggotaan

Keanggotaan organisasi terutama Anggota Aktif dikelola sebuah unit teknis tersendiri yang bersifat independen tanpa mengenal batas masa bhakti;
Unit Teknis sebagaimana dimaksud ayat 1 pasal ini dibentuk oleh Pengurus Karang Taruna Kota Bandung melalui sebuah surat Keputusan yang sebelumnya dibahas, disetujui dalam RPP baik personalia maupun tata Kerjanya;
Dalam menjalankan tugasnya Unit Teknis sebagaimana ayat 1 pasal ini dibantu oleh unsur sekretariat baik Tingkat Kota maupun hingga tingkatan Kelurahan;
Pengelolaan Keanggotaan (Aktif) oleh Unit Teknis meliputi aktivitas:
Penyusunan Rencana Kerja;
Pengumpulan Data;
Pengelolaan Data;
Pembuatan KTA dan BSK;
Distribusi KTA dan BSK hingga yang menerima yang bersangkutan berdasarkan data yang masuk;
Updating Program.

Pemberhentian Keanggotaan
Pemberhentian anggota hanya berlaku bagi Anggota Aktif;
Keanggotaan (Aktif) berhenti karena:

Meninggal Dunia;
Atas permintaan sendiri dengan sukarela;
Diberhentikan sementara karena adanya permasalahan tertentu yang mengganggu status keanggotaannya yang apabila temyata permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka status keanggotaan aktifnya dapat dikembalikan;
Diberhentikan karena tidak lagi dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Anggota Aktif;

Mekanisme pemberhentian sebagai Anggota Aktif atas permintam sendiri diatur sebagai berikut :

Yang bersangkutan menyampaikan usulan untuk berhenti sebagai anggota disertai dengan alasan-alasan yang logis dan rasional kepada pengurus yang bersangkutan;
RPH pengurus yang bersangkutan membawanya ke dalam RPP dan mengundang anggota yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan dan apabila penjelasannya dapat diterima, yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat melalui surat keputusan pengurus dan harus menyerahkan kartu anggota dan menandatangani surat pernyataan tentang pemberhentian dimaksud yang ditandatangani yang bersangkutan dan pengurus;
Apabila RPP menolak penjelasan dimaksud yang bersangkutan tetap sah menjadi Anggota Aktif;
Surat Keputusan Pemberhentian dari pengurus dan surat pernyataan sebagaimana dimaksud dalam butir b ayat ini dibuat rangkap 2 (dua) yang 1 (satu) disampaikan kepada yang bersangkutan dan yang 1 (satu) lagi sebagai dokumen organisasi.

 

Mekanisme pemberhentian sementara dan pemberhentian bagi Anggota Aktif diatur sebagal berikut :

RPH pengurus yang bersangkutan memandang bahwa Anggota Aktif yang bersangkutan tidak dapat memenuhi kewajiban da/atau melanggar peraturan dan ketentuan yang berlaku;
RPH mengundang pengurus untuk hal tersebut disertai dengan alasan-alasan yang logis dan rasional dalam RPP dan mengundang yang bersangkutan untuk membela diri dan apabila dapat diterima, yang bersangkutan tetap sah menjadi Anggota Aktif;
Apabila RPP menolak pembelaannya, yang bersangkutan akan diberhentikan sementara, sampai dapat membuktikan pembelaannya dalam forum TK;
Keputusan RPP yang menolak pembelaan sebagaimana dimaksud dalam butir c pasal ini harus dilaporkan pada TKKT pada tingkatan yang bersangkutan dan apabila TKKT dimaksud menerima pembelaan tersebut, yang bersangkutan tetap sah menjadi Anggota Aktif;
Apabila TKKT menolak pembelaannya, yang bersangkutan akan diberhentikan secara tidak hormat melalui surat keputusan pengurus yang mengembalikan Kartu Anggota;
Surat Keputusan Pemberhentian dan pengurus dan surat pernyataan sebagaimana dimaksud dalam, butir b ayat ini dibuat rangkap 2 (dua), yang 1 (satu) disampaikan kepada yang bersangkutan dan yang 1 (satu) lagi sebagai dokumen organisasi;
Anggota Aktif yang diberhentikan dengan tidak hormat tidak diperkenankan untuk menduduki jabatan pengurus Karang Taruna dan/atau pengurus lembaga pada seluruh tingkatan.

Ingin Budidaya Jamur Tiram, Kenali Dulu Sifat-sifatnya

BERDESA.COM – Budidaya jamur tiram adalah salahsatu peluang usaha yang masih sangat terbuka hingga saat ini. Pasalnya, kebutuhan konsumsi jamur masih belum mampu dipenuhi oleh suplai yang disetorkan para pembudidaya jenis jamur ini. Budidaya jamur tiram juga bakal memberikan gizi yang baik bagi keluarga.

Beberapa keunggulan budidaya jamur tiram adalah relatif mudah proses menumbuhkannya dan bisa dilakukan dalam skala rumahan. Kedua, jamur tidak memerlukan perlakuan terlalu khusus, tidak butuh pemupukan dan perawatan yang ‘njelimet’. Cukup berada dalam lingkungan yang sejuk, tidak terkena sinar matahari secara langsung dan bisa dilakukan mulai dari tahap kecil hingga mengembang sampai membangun kumbung (rumah jamur) dalam skala yang besar.

Bahan pembuat jamur pun tidak terlampau sulit didapatkan, terutama di daerah pedesaan yakni ampas gergaji kayu, katul, kapur dan air. Cara membuatnya juga mudah dan gampang mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana jamur tiram dibudidayakan.

Sebelum membuat media tumbuh jamur tiram, ada baiknya Anda memahami apa itu jamur tiram dan berbagai sifat yang dimiliknya sehingga Anda bisa menyesuaikan kebutuhan alami nutrisi jenis jamur ini dengan lingkungan Anda. Berikut ini beberapa hal yang harus Anda pahami mengenai apa dan bagaimana jamur tiram tumbuh dan berkembang:

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa miselium yang disimpan di tempat yang redup, jumlahnya lebih banyak disbanding di temapat yang terang dari cahaya matahari yang penuh.
Miselium adalah jaringan yang didalamnya kumpulan dari hifa jamur. Miselium dapat tumbuh pada sel dinding kayu dengan melakukan penetrasi pada dinding sel kayu dengan cara melubanginya.

Proses penetrasi dinding sel kayu dibantu oleh enzim pemecah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang dihasilkan oleh jamur melalui ujung benang-benang miselium. Enzim tersebut mencerna senyawa kayu sekaligus memanfaatkannya sebagai sumber (zat) makanan.

Syarat Tumbuh Jamur Tiram

  1. Temperatur yang diperlukan

Serat (miselium) jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada kisaran suku 23 – 28 derajat celcius. Jika suku lebih rendah dari 23 derajat maka pertumbuhan miselium bakal lebih lambat. Sementara untuk jamur yang berbentuk cangkang tiram, perlu suhu sekitar 13 – 15 derajat selama 2-3 hari. Jika suhu tidak bisa serendah ini maka pertumbuhan cangkang bakal berlangsung lebih lama.

  1. Kelembaban yang diperlukan

Kandungan air menjadi sangat penting bagi jamur untuk tumbuh. Jamur ini bakal kesulitan tumbuh jika kadar airnya kurang dari 60 persen. Tetapi terlalu banyak air juga bakal membunuhnya. Maka biasanya para pembudidaya dengan rutin akan menyemprotkan air untuk menjaga kelembaban media jamur.

  1. Cahaya

Cahaya matahari secara langsung dapat merusak dan menyebabkan kelayuan dan mengakibatkan ukuran tudungnya menjadi kecil. Jamur ini hanya memerlukan cahaya yang menyebar saja tetai dia tidak bisa pula berada dalam keadaan gelap gulita. Artinya ruangan penyimpan jamur harus tetap memiliki cahaya pada siang hari. Cahaya diperlukan jenis jamur ini untuk menumbuhkan tubuh buah. Jika Anda memelihara jamur di rumah maka carilah ruangan yang paling sejuk, tidak terkena matahari tetapi tidak panas di kala siang hari. Untuk menciptakan suhu seperti itu biasanya butuh penutup bahan tertentu sehingga jamur tidak kepanasan dan tetap mendapat sinar tetapi tidak langsung dari matahari.

  1. Udara

Sebagai tanaman saprofit fakultatif aerobic, jamur tiram putih membutuhkan oksigen sebagai senyawa untuk pertumbuhannnya. Sirkulasi udara pada tempat meletakkan jamur juga harus lancar. Jika kekurangan oksigen, jamur bakal tumbuh kecil dan gampang layu.

  1. Derajat Keasaman (pH)

Miselium jamur tiram putih ini hanya bis atumbuh optimal pada media pH media yang sedikit asam. Kadar keasamannya antara 5,0-6,5. Yang diperlukan adalah nilai pH medium untuk produksi metabolisme-nya, seperti produksi asam organik. Ingat, kondisi yang terlalu asam bisa menyebabkan pertumbuhan jamur terganggu dan terkontaminasi jamur lain dan hal ini bisa menimbulkan kematian. Jamur ini tumbuh optimal pada pH lingkungan yang mendekati normal.

  1. Media tanam
Baca Juga  Toko Tani Indonesia Akan Mengakhiri Derita Petani, Caranya?

Media yang dibutuhkan miselium untuk tumbuh adalah ampas gergaji (atau ampas tebu) yang dibuat dalam bentuk silinder, sumber gula (tepung-tepungan), kapur, pupuk P dan air.

  1. Ketinggian Tempat

Idealnya, jamur tiram tubuh subur pada tempat dengan ketinggian 700-800 meter dari permukaan laut. Pada ketinggian ini iklim yang ada sangat tepat mendukung pertumbuhan miselium. Tetapi bukan berarti pada dataran yang rendah jamur tak bisa tumbuh. Yang terpenting jamur-jamur ini mendapatkan suku dan kelembaban yang sesuai dengan kebutuhannya. Utamanya, hawa yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari seara langsung.

  1. Bibit Jamur

Umumnya pembibitan jamur dilakukan secara khusus oleh para pembibit. Soalnya, pembibitan butuh alat dan proses yang steril. Bibit jamur tiram yang disebut F3 ini sangat rentan terhadap kontaminasi.

Itulah beberapa hal mendasar dari jamur tiram. Anda harus memahami beberapa sifat ini sebelum memutuskan untuk mulai mengembangkannya. Soalnya, pertumbuhan jamur sangat tergantung dengan kondisi lingkungannya. (aryadjihs/berdesa).

Sumber : Berdesa

 

Database RT-RW

Untuk memudahkan para pengurus RT dan RW dalam mengelola administrasi warga dengan ini saya posting aplikasi untuk pendataan warga di wilayah RT dan RW. Ini bukan Aplikasi yang dikeluarkan oleh Pemda Kab. Bogor, tapi setidak nya bisa membantu.

File tidak perlu proses install. Cuku anda download, terus extract dengan winrar dan klik warga.exe ( hanya ada 3 file warga.exe, warga.gdb dan gds32.dll )

Aplikasi ini memiliki featur yg lengkap, untuk lebih jelasnya silahkan mencoba dengan mendownload file ini : database warga

Selamat mencoba.

 

 

 

Ciri-Ciri Desa Menurut Para Ahli

a. Menurut Roucek – Warren :
• Kelompok primer merupakan kelompok dominan
• Hubungan antar warga bersifat akrab dan awet
• Homogen dalam berbagi aspeknya
• Mobilitas sosial rendah
• Keluarga lebih dilihat fungsinya secara ekonomis sebagai unit produksi
• Proporsi anak lebih besar
(Sumber : http://ifzanul.blogspot.com/2010/06/masyarakat-tradisional-masyarakat.html)

b. Menurut Mayor Polak :
• Bersifat kekeluargaan
• Bersifat koeltif dalam pembagian dan pengerjaan tanah
• Bersifat kesatuan ekonomis, yaitu dapat memenuhi kebutuhan sendiri (subsistensi)
(Sumber : http://ifzanul.blogspot.com/2010/06/masyarakat-tradisional-masyarakat.html)

c. Menurut Bauchmant :
• Jumlah penduduk kecil
• Sebagian besar penduduk dari pertanian
• Dikuasai alam
• Homogen
• Mobilitas rendah
• Hubungan intim
(Sumber : http://ifzanul.blogspot.com/2010/06/masyarakat-tradisional-masyarakat.html)

d. Menurut Talcott Parson :
• Afektifitas : Hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kesetiaan, dan kemesraan. Wujudnya berupa sikap tolong menolong terhadap orang lain.
• Orientasi kolektif : meningkatkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak (enggan) berbeda pendapat
• Partikularisme : semua hal yang berhubungan dengan apa yang khusus untuk tempat atau daerah tertentu saja, perasaan subjektif, rasa kebersamaan
• Askripsi : berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang disengaja, tetapi lebih merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keharusan
• Kekaburan (Diffusenses) : sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antarpribadi, tanpa ketegasan yang dinyatakan secara eksplisit (tidak to the point).
(Sumber : http://community.gunadarma.ac.id/public/blogs/view/name_ariyanto/id_8936/title_masyarakat-pedesaan-dan-perkotaan/)

e. Menurut Paul H Landis :
• Umumnya mereka curiga terhadap orang luar yang masuk
• Para orang tua umumya otoriter terhadap anak-anaknya
• Cara berfikir dan sikapnya konservatif dan statis
• Mereka amat toleran terhadap nilai-nilai budayanya sendiri, sehingga kurang toleran terhadap budaya lain
• Adanya sikap pasrah menerima nasib dan kurang kompetitif
• Memiliki sikap udik dan isolatif serta kurang komunikatif dengan kelompok sosial di atasnya
(Sumber : http://scooteris.multiply.com/journal/item/11/KELOMPOK_SOSIAL)

f. Menurut Poplin (1972) :
• Perilaku masyarakatnya homogen
• Perilakunya yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
• Perilakunya yang berorientasi pada tradisi dan status
• Isolasi sosial, sehingga statik
• Kesatuan dan keutuhan kultural
• Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
• Kolektivisme
(Sumber : http://community.gunadarma.ac.id/public/user/blogs/view/name_ariyanto/id_8936/title_masyarakat-pedesaan-dan-perkotaan/)

g. Menurut Lowrrey Nelson :
• Mata pencaharian : agraris homogen
• Ruang kerja : terbuka, terletak di sawah, ladang dsb
• Musim/ cuaca : sangat penting untuk tentukan masa tanam/panen
• keahlian/ ketrampilan : umum dan merata untuk setiap orang
• kesatuan kerja keluarga : sangat umum
• jarak rumah dengan tempat kerja : berdekatan
• kepadatan penduduk : rendah / sedikit
• besarnya kelompok : sedikit / kecil
• kontak sosial : sedikit / pribadi
• rumah : tradisional / pribadi
• lembaga / institusi : kecil / sederhana
• kontrol sosial : adat istiadat, kebiasaan
• sifat dari kelompok : bergerak dari kegiatan primer
• mobilitas penduduk : rendah
• status sosial : stabil
• stratifikasi sosial : sedikit
(Sumber : http://indahpurnamawati.blogdetik.com/2009/10/30/ciri-ciri-desa/)

h. Menurut Soerjono Soekanto :
• Kehidupan masyarakat sangat erat dengan alam
• Kehidupan petani sangat bergantung pada musim
• Desa merupakan kesatuan sosial dan kesatuan kerja
• Struktur perekonomian bersifat agraris
• Hubungan antar anggota masyarakat desa berdasar ikatan kekeluargaan
• Perkembangan sosial relatif lambat
• Kontrol sosial ditentukan oleh moral dan hukum informal
• Norma agama dan adat masih kuat
(Sumber : http://indahpurnamawati.blogdetik.com/2009/10/30/ciri-ciri-desa/)

i. Menurut Dirjen Bangdes (Pembangunan Desa) :
• Perbandingan lahan dengan manusia(man-land ratio) cukup besar artinya lahan di pedesaan relatif luas dari pada jumlah penduduk, sehingga kepadatan penduduknya masih rendah
• Lapangan kerja yang dominan agraris
• Hubungan warga desa akrab
• Tradisi lama masih berlaku.
(Sumber : http://indahpurnamawati.blogdetik.com/2009/10/30/ciri-ciri-desa/)